Feed on
Posts
comments

Kisah di alun-alun

Weekend kemarin, kami memutuskan untuk traveling kuliner seperti yang biasa-biasanya sering kami lakukan.Saya bilang pada Awa, “Hari ini kita hunting makanannya di alun-alun yuk, kayaknya banyak makanan yang unik deh”.Awa langsung mengiyakan karena hampir seharian penuh kami membicarakan mengenai persiapan ujian prelim S3 Awa seminggu ini.Perut yang sangat keroncongan karena tidak sempat sarapan ditambah melewati waktu makan siang yang begitu hectic, benar-benarmembuat kami keroncongan….

Sesampai di alun-alun, kami jadi bingung memilih, saking bervariasinya kedai makanan.Saya saran pada Awa untuk makan soto babat saja.Awa yang suka ikan-ikanan lebih memilih pecel lele dibanding soto…hehehehe (pantes otak Awa jenius.. J).Sebetulnya tiada yang unik dari makanan yang kami nikmati sore itu.Hanya semangkuk soto babat, pecel lele, tahu, tempe, dua piring nasi dan lalab.Namun, yang membuat kami akhirnya sepakat untuk mengatakan “unik” adalah penjual soto babat dan pecel lele itu.Kenapa coba?Mereka adalah sepasang suami istri yang berjualan berdua, ditemani anaknya yang masih kecil.Wah, kami berdua sempat salut melihat kerjasama yang mereka bina.Malah Awa bilang, ada juga beberapa penjual makanan di daerahnya yang memang dikelola hanya dengan dua tenaga/suami-istri.

Pelajaran itu begitu berharga bagi kami melihat mereka yang tetap mesra melayani para pengunjung soto babat dan pecel lele.Awa saja setuju dengan komentar saya.Soto babat nya juga enak, kaldunya sangat terasa.Babat yang diiris kecil-kecil juga lembut dan tidak terlalu kenyal.Awa saja makan pecel lelenya lahap.Apa mungkin karena kita lapar ya miu-miu kitty….hehehehe….

Satu hal yang pasti, kami berdua menyepakati bahwa rasa saling menyayangi dengan ketulusan hati sepenuhnya dan menerima kekurangan pasangan sebagai suatu anugerah untuk saling mengisi satu sama lain, adalah cinta yang sesungguhnya.

Indahnya Shalat Magrib Berjamaah di Rumahmu Yang Damai
Jikustik ‘1000 tahun’
Bila
Kau sanggup untuk melupakan dia
Biarkan aku hadir dan menata
Ruang hati yang telah tertutup lama

Jika
Kau masih ragu
Untuk menerima
Biarkan hati
Kecilmu bicara
Karena kutahu kan datang saatnya

Kau jadi bagian hidupku
Kau jadi bagian hidupku

Takkan pernah berhenti
Untuk selalu percaya
Walau harus menunggu
Seribu tahun lamanya

Biarkanlah terjadi
Wajar apa adanya
Walau harus menunggu
Seribu tahun lamanya
Jika kau masih ragu
Untuk menerima
Biarkan hati
Kecilmu berbicara
Karena kutahu
Kan datang saatnya

Selama apapun itu
Aku kan setia menunggu

Album: Afgan - Bukan Cinta Biasa

Kali ini kusadari
Aku telah jatuh cinta
Dari hatiku terdalam
Sungguh aku cinta padamu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki
Dan kamu yang temaniku seumur hidupku

Terimalah pengakuanku
Percayalah kepadaku
Semua ini kulakukan
Karena kamu memang untukku

Cinta ku bukan cinta biasa
Jika kamu yang menemani
Dan kamu yang temaniku seumur hidupku
Terimalah pengakuanku

Tahun kedua ini, fakultas dipercaya untuk menerima mahasiswa asing yang akan mempelajari bahasa indonesia, bahasa nasional masyarakat Indonesia.Kami menyebutnya BIPA alias Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing.Bila tahun kemarin kami mengajar mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari Turki dan Turkmeniztan, tahun ini kebagian dari negara Somalia.Walau berasal dari dari sphere Afrika, mahasiswa-mahasiswa Somalia ini bahasa Inggris nya lancar.Malah dua dari ketiga mahasiswa ini pernah tinggal lama di negara Inggris dan Italia. Menurut mereka, negara Somalia yang dulu pernah dijajah Italia itu, memberikan pencerahan bagi pembangunan disana. Itu kata mereka lho ya..

Alhamdulilah-nya, mahasiswa-mahasiswa Somalia yang bernama Alqaa, Waraleh dan Camdan adalah penganut agama Islam, rahmatan lil alamin.Jadi lebih mudah bagi kami para pengajar BIPA untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, walau tidak secara spesifik ya..Tata krama mereka, saya pikir cukup sesuai dengan alam Indonesia.Mereka cepat sekali beradaptasi dengan lingkungan sekitar.Apalagi mengenai makanan, saya jadi suka barter resep menu makanan..hehehehe.Lalu saya praktekin di dapur rumah.Misalnya saja kue ‘Dorscho’ yang nikmat bila ditemani teh atau kopi ala Somalia.Cara pembuatannya simpel banget.Biasanya mereka buat kue ‘Dorscho’ untuk sarapan pagi.

Hanya, yang membuat saya agak ngerasa unik ketika mengajar di kelas itu ya dari warna kulitnya.Saya jadi inget sama seorang temen dari Jurusan Teknik Informatika yang dulu suka saya panggil ‘Usher’.Tapi kulitnya lebih hitam dari ‘Usher’ lho.Wah, saya sampai ngebandingin warna tangan saya dengan tangan mereka saat perkenalan awal dengan mereka.Lhe, mereka malah ketawa dan mengatakan begini, “Ya, saya kulit hitam dan anda kuli putih”..Walah, kulit kayak saya gini mah bukan putih, tapi kulit sawo matang nan manis..hehehe.

Oke deh, selamat datang dan selamat menuntut ilmu di negara Indonesia untuk kalian bertiga ya….

Lagu yang Manizz lho..

Album : Vidi Aldiano - Pelangi di Malam Hari

Oh, tiada yang hebat dan mempesona
Ketika kau lewat di hadapanku
Biasa saja…

Waktu perkenalan terjalin sudah
Ada yang menarik pancaran diri
Terus mengganggu

Mendengar cerita sehari-hari
Yang wajar tapi tetap mengasyikkan
Oh, tiada kejutan pesona diri

Pertama kujabat jemari tanganmu
Biasa saja…
Masa perkenalan lewatlah sudah
Ada yang menarik bayang-bayangmu
Tak mau pergi
Dirimu nuansa-nuansa ilham
Hamparan laut tiada bertepi

Reff :
Kini terasa sungguh
Semakin engkau jauh
Semakin terasa dekat
Akan ku kembangkan
Kasih yang kau tanam
Di dalam hatiku
Menatap nuansa-nuansa bening
Tulusnya doa bercinta

Seorang teman baik kemarin berbagi lagu We Will Not Go Down (Song for Gaza) melalui MP3.

Liriknya begitu menyentuh hati tetapi sangat menusuk nurani manusia setiap yang mendengarnya. Bulu kuduk saya saja berdiri, sedikit menitikan air mata menjelajahi lirik mengenai deskripsi brutalnya Israel menggempur Gaza. Invasi massive Israel meluluhlantahkan warga Gaza secara fisik, psikologis, mortal, dsb terus menerus meluluhlantahkan Gaza. Namun jiwa patriotisme, serta rasa nasionalisme Gaza tak pernah surut untuk tetap bangkit mempertahankan tanah airnya.. Untunglah, gencatan senjata telah dilakukan. Saya juga mau berbagi liriknya ah..

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

by Michael Heart


A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Menarik untuk sedikit dibahas mengenai topic seorang teman di discussion board FB mengenai ‘mimpi;.  Kalau boleh saya kutip, ini kalimatnya: “KAMU BOLEH SAJA BERMIMPI… TAPI JANGAN HANYA SEKEDAR MIMPI… BANGUN DAN COBALAH UNTUK MENGGAPAINYA!!!”

Lalu saya menanggapinya atas permintaan beliau.  Saya setuju akan hal itu.  Memang manusia boleh bermimpi, asal bagaimana ia bisa melalui segala rintangan dengan ketegaran hati.  Sebab tanpa adanya impian, manusia itu statis. Dia mati tanpa adanya tujuan hidup. Cogito Ergo Sum, filosofis seorang manusia untuk mengaktualisasikan dirinya pada dunia. Maka bermimpilah.. Bermimpilah…  Layaknya pesan moral dalam Film Laskar Pelangi, “Kenapa kau tak berani bermimpi?”
Bukankah banyak penemuan ilmiah yang berasal dari mimpi! Seperti penemuan Lampu yang kelap kelipnya  kan menyemarakkan tahun baru 2009 nanti malam. Ya, esok hari semua penghuni bumi akan memasuki era penuh mimpi.   Semoga impian-impian itu adalah aspirasi mulia, untuk kemaslahatan bersama.
Satu mimpi subjektif saya sore ini beberapa jam menjelang tahun baru, akankah Palestina dan Iisrael damai suatu saat nanti?  Semoga..

Pengaptasian teori dari seorang pengajar senior yang saat ini tengah menjabat sebagai sekjur plus penulis kenamaan ternyata aplikabel juga, dengan pengadaan pemberian materi di luar kelas.Melalui saran-saran beliau, beberapa pengajar junior (termasuk saya) mencoba untuk menerapkannya di kelas masing-masing.

Sebetulnya tujuan awal saya pribadi hanya ingin meningkatkan daya kritis mahasiswa saja dalam menghadapi isu-isu hangat semisal global warming effect. Namun kenyataannya hal itu merambah pada hal personal.Jurang antara relasi dosen dan mahasiswa yang begitu kaku ketika melakukan sesi diskusi di kelas, langsung mencair ketika dalam perkuliahan yang diadakan di luar kelas.

Biasanya dengan sekat ruangan ditambah jejeran kursi-kursi, whiteboard dan slide projector membuat beberapa mahasiswa terkukung untuk bereksperasi sebebas-bebasnya.Sedangkan saat di luar kelas, mereka begitu terbuka mengeluarkan opini-opini pedas..Ya, pedas karena sekarang memang era reformasi yang menyerukan kebebebasan liberal untuk mengkritik apapun.Tentunya yang pantas dikritik, bukan hanya asbun atau asal kritik saja.Regulasinya cuma satu, yaitu semua hal yang dikritik harus berada pada tataran empiris dan teoretis.Kebetulan kami semua sepakat mengambil lokasi di Lembang dengan meminta ijin sebelumnya pada Mbak Cucu, koordinator Bosca.Mengingat penjagaan sekuritas disana cukup ketat, maka kami sengaja membatasi sampai setengah jam saja.But, it was cool….

Semula mahasiswa yang biasanya vakum, menjadi ikut aktif dalam diskusi tersebut.Dinding keras mulai didobrak dan saya bisa menyelami pemikiran mereka mengenai tema yang diusung ketika itu.Tapi kok malamnya ada seorang gadis mahasiswi yang kirim SMS buat curhat ya?Hahahaha…. kok jadi kebablasan..

Kelas kami memang beneran kelas yang super keren..  Ketika minggu-minggu ini tugas UTS take home cukup banyak, tapi kami nekat buat nonoton film twilight.  Tapi beneran film twilight sesuai dengan novelnya lho.  Staphanie Meyer, seorang ibu rumah tangga yang menusli tetralogi twilight ini memang cukup mencengangkan.  Sebab  plot dari ceritanya tertata apik, walau sayang ketika divisualisasikan kurang terasa gress antara karakter yang akan dimunculkan.  Apakah itu si drakula seksi Edward (Hehehehe cakep banget!), atau Bella (Gadis manis dari upper town)?  Keluarga Cullen nya juga rasanya terasa kurang pas.  Ini asesmen subjektif ya. Overall, semua drakulanya tampan-tampan dan cantik-cantik.  Gak ada kesan serem sama sekali..

Apalagi ketika Edward terbang-terbang mengawang-ngawang diantara pohon-pohon.  Saya setuju kalau setting di film nya memanjakan mata banget.  Dari awal sampai akhir film, keasrian alamnya terus disajikan.  Indah banget…

Mungkin sepertinya lebih seru baca novelnya.  Lebih mendalami gitu aja sisi keromantisanya dari kata per kata.  Sebab ucapan-ucapan Edward yang selalu menjaga Belle setiap saat dengan kasih sayannya yang tulus pasti bikin meleleh semua wanita yang baca.  Saya juga sampai berimajinasi gitu.. =>.  Walau dia drakula vegetarian yang cuma minum darah binatang, cara dia menahan nafsu id nya yang bikin saya tertarik.  

Pesan moralnya banyak banget.  Jadi cintanya bukan cinta sex, tapi beneran cinta tulus dari dalam hati.  Saling memberi dan menerima bisa jadi ini movie ini.

Layaknya kisah romeo and Juliet di era pos modernisme deh.        

Tugas take home UTS untuk dikumpulkan minggu depan beneran harus kejar tayang.Kantuk terus mendera saya tadi malam itu.Secangkir teh jahe pun sudah tak lagi bisa mengobati rasa kantuk.Tak terhitung berapa kali saya menguap untuk menyelesaikannya.Saya coba cuci muka untuk menyegarkan badan kembali, sambil berwudhu.Dengan harapan kembali memiliki spirit baru.Sayang hanya bertahan beberapa puluh menit.

Sampai akhirnya saya putuskan untuk mendengar lagu-lagu mellow. Makin saja seperti dininabobokan.Eh entah kenapa, muncul keinginan mendengar lagu-lagu milik Opick.Wah suasananya jadi 100 derajat berbeda!Seakan batin terisikan dengan syair-syair lagunya Opick.Begitu lembut dan menentramkan batin saya. Salah satu lagu yang menemani kesendirian saya mengerjakan tugas take home hingga larut malam itu ya “Allah Ya Salam” selain, “Assalamu’alaikum, Mendambamu, Pewaris Surga, Rapuh, Allah cinta, ya Rahman, Tombo Ati, Khusnul Khotimah, Sedekah, Takdir, Astagfirullah, Taubat, Alhamdulillah, dsb”.

Hanya saja, lirik lagu “Allah Ya Salam” membuat saya tergugah untuk merenung betapa agungnya kuasa Allah SWT.Benar, serasa syiar lewat lagu ini menghenyak kalbu saya.Spontan muncul pemikiran bagaimana Allah melakukannya, sebab kantuk saya hilang begitu saja.

Sebuah buku berjudul “The Secret” pernah mengatakan bahwa pikiran manusia itu seperti magnet.Sedangkan saya cuma percaya Allah lah yang mengatur segalanya.Manusia cuma bisa meminta, berikhtiar, lalu memasrahkan pada-Nya untuk berharap sesuatu yang terbaik bagi diri indvidu tersebut.

Ya memang itu rahasia Allah. Ketransedentalan,metafisik dan absurd mungkin menjadi bagiannya. Manusia akan sangat mustahil menjangkau pikiran serta kuasa-Nya. Astagfirullah, betapa saya begitu hina dan kecil di hadapan-Nya bila direnungkan kembali..Menjadikan saya semakin bersyukur dengan nikmat agama mulia ini=D

Ini saya ingin berbagi lirik lagunya. Semoga semakin menguatkan rasa cinta kepada Allah bagi siapa saja yang mendengarnya.. Oke;D

Opick

Allahu Ya Salam

Diciptakan alam raya,

Dengan cinta dalam genggaman-Nya

Setiap wajah, kan memuja

Bila tahu betapa indahMu

Penuh dengan cinta.. penuh warna-warna

Penuh kasih sayang.. di setiap waktu

Allah maha besar

Maha memaafkan setiap kesalahan

Setiap kesalahan terbuka ampun-Mu

Yang melihat menyaksikan

Yang memberi ketenangan

Kau yang dekat penuh cinta dihati

Allahu Ya Salam.. Allahu Ya Salam

Allahu Ya Salam.. Allahu Ya Salam

Older Posts »