der Februar, 2009
Gelegar warna dalam benak jiwa, membuat segala angan begitu ceria.Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu….semua menyatu layaknya pelangi di langit nan biru.Merekah senyummu melihatku menari-nari sendiri di tengah hamparan hijau rerumputan itu.Kau tak mau ikut serta bersamaku meliuk-liukan badan disertai iringan senandung alam.Sepertinya kau lebih memilih untuk menikmati ombak rambut hitamku yang diterbangkan angin sepoi-sepoi dalam tarian sederhana ini.“Wagai gadis, aku mengagumi… Sangat!”, teriak kau yang tengah duduk di bawah pohon rindang.Aku tak menggubrisnya, sebab asyik menikmati nyanyian-nyanyian burung sebagai aubade kreasi Tuhan yang indah.Sembari menghabiskan masa penjajakan cinta kita menuju gaung pelaminan.
Bulan yang menggantung indahnya di Pantai Sanur, bukti tersematkannya janji sehidup semati.Mengucap sumpah setia bermaharkan musama tadi pagi.Sekarang, cuma kau dan aku…duduk berdua menghadap tirai alam berbalut alunan tenangnya suasana malam.Putih pasir sedikit terusik karena sepasang siput-siput kecil pencari rumah baru, beriringan melewati kaki telanjang kita.Membuka topik obrolan tentang makhluk-makhluk liliput cantik.Puas dahaga kita membicarakan romantika siput, tiba-tiba kau raih gitar disampingku.Kau senandungkan sebuah lagu berjudul Unchained Melody lewat petikan gitar manismu..“Ooh my love, my darling.I’ve hungered for your touch alone lonely times.And time goes by, so slowly and time can do so much.Are you still my miiiiiiine?.”Saya pun jadi ikut larut bernyanyi ,“I need your love, I need your love.God speed your love to meeee.” Dan akhirnya suara kita berpadu dalam satu alunan nada, “Lonely rivers flow to the sea. To the open arms to the sea.Lonely rivers side wait for me..i’ll be coming home wait for me.”Semakin saja menyahdukan malam pertama pernikahan aku dan kau di Pulau Bali.–The End – - Tamat -
Well, saya iseng-iseng aja sih ngebuat parafrase khayalan saat-saat pacaran sepasang kekasih di tengah pesawahan, sampai akhirnya mereka bulan maduan di pantai sanur.Iseng karena pas nerima kartu undangan dari temen-temen yang pada mau nikahan bulan februari ini aja, jadi terispirasi nulis kayak gituan.Wuah, nikahan pas bulan penuh kasih sayang berarti pas valentine juga ya.
Iye pokoknya menjelang bulan februari, bawaannya pengen nulis yang romantis-romantis. Februari bagi sebagian orang bisa jadi bulan penuh cinta.Buktinya, numpuk juga undangan yang ngadain nikahan di bulan ini.Bahagia juga dengernya mereka akhirnya akan memasuki bahtera rumah tangga.Cuma betenya saya, kalo ke undangan tuh terkadang suka ditanya-tanyain mulu. Dulu sewaktu menghadiri resepsi nikahan temen kuliah juga, segudang pertanyaan pasti terlontar seputar bla..bla..bla..bla.Saya jabarin aja deh percakapannya,;
‘Lucy kapan niy nyusul kayak kita-kita?’,Tanya beberapa temen yang sudah pada merit.
‘Doakan saja’,Jawab saya seadanya.
‘Siapa calonnya, orang mana? Kerja dimana?’,Tanya mereka lagi kayak kereta api.
‘Doakan saja’,Jawab saya sembari senyum-senyum.
‘Lho cy, kok gak nyambung sih’, Tanya seorang teman yang sedang hamil 5 bulan.
‘Hehehe doakan saja pokoknya ‘.Jawab saya masih tersenyum and bikin heran semua.
Yup, jawaban kayak gitu pasti jadi andalan utama,“Doakan saja” walau memang gak nyambung dengan konteks pertanyaan mereka.der Ulke..Ja, ich tune mir lache.Bila memang saya masih belum merasa sreg secara intusi dengan seorang lelaki, mau dibagaimanakan lagi.Gak adil kan kalo cinta terpaksa untuk menyenangkan sebelah pihak atau bertepuk sebelah tangan.Teman saya sempat berkomentar begini;
‘Kamu tuh tipe pemilih kali cy?’,Kata temen yang anak bayinya dah setahun.
’Ah kalau saya tipe pemilih, saya udah bikin kategorisasi cowok kalee’, Canda saya padanya.
‘Milih cowok sama kayak milih baju, kudu selektif ’, Temen lain yang lajang menambahkan.
‘Aduuh srasa ada yang ngdukung’,Saya tertawa geli.
‘Yoi lah cy, zaman sekarang gitu.Secara, lebih enak zomblo tau!’,Kata dia lagi sok bhs gaul.
‘Bibit bebet bobot cy pasti pake, tapi punten ya kalo jomblo trus mah’Kata saya padanya.
‘Kamu tetep aja terpesona sama cowok yang suka pake piyama ntu ya kan?’Tebak dia.
‘Hahahaha Mbak Hon bisa saja..’,Saya geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil.
Pokoknya debat saya dengan Mbak Hon gak ada abisnya kalo sudah diskusi tentang jadi single selamanya atau memutuskan untuk menikah.Maklum, dia seorang aktivis wanita yang berkiblat feminis barat.Dunia politik mungkin..ini mungkin lho, membuat dia memandang berbeda.Walau gak semua aktivis cewek kayak gitu kan?Entah motif apa yang membuat dia terlintas berfikir untuk memilih menjadi lajang saja.
Menikah, melahirkan, mengurus anak juga suami tokh sudah jadi kodratnya wanita.Urusan domestik mau gak mau tetep jadi tugas wanita juga, namun tetap tak ada salahnya bila wanita itu juga ingin mengembangkan potensi yang dimiliki dalam dunia profesi.Asalkan dia bisa menyeimbangkan dunia kerja and rumah.Banyak contoh wanita-wanita sukses dalam dunia karir dan profesi, satu contoh Miranda Goeltom misalnya.Jadi bukannya malah memilih untuk tidak menikah dan mendedikasikan diri bersaing mencari keseteraan derajat dengan lelaki.
Sebab, lelaki tetap saja akan menjadi imam bagi wanita.Sori banget ya Mbak Hon, saya tetep gak setuju ah dengan pendapatmu.Bila suatu saat nanti Tuhan akhirnya mempertemukan saya dengan lelaki tepat pilihan-Nya dan kami melangsungkan pernikahan sakral, saya juga bakalan nanya padamu, ‘Kapan nyusul merit kayak saya, Mbak?’
Mbak hon, entschuldigen Sie yach! =>