Bersama sang maestro Difabel di Punclut
August 8, 2008 by lucysupratman
Difabel ternyata tidak membuat lelaki ini merasa dikasihani. Hanya dengan bermodalkan microphone dan pengeras suara sederhana, dia melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan amat fasih. Bayangkan, seorang tuna netra melakukannya tanpa membaca Al-Qur’an. Saya tertegun sejenak memperhatikan lelaki ini. Dia telah mempersiapkan semua peralatannya dari pukul 5.30 pagi dan mulai melontrakan ayat-ayat suci dengan indahnya hingga sekitar pukul 10 tanpa berhenti. Foto ini saya ambil di bulan Desember tahun 2007. Namun, setiap hari minggu saya dan keluarga berolahraga ke Punclut, lelaki ini tetap setia dengan akfitasnya sampai saat ini.
Tepatnya di sepanjang jalan setapak daerah Punclut, saya kerap menemukannya berjongkok dialasi sandal karet. Hal yang membuat saya respek padanya ialah karena kemampuannya yang sangat kreatif untuk mencari nafkah. Bukan bermaksud untuk mengkomersialisasikan agama lewat ekspoitasi ayat Al-Qur’an, namun saya beranggapan bahwa dia memiliki keinginan untuk menyiarkan agama islam. Bukankah itu suatu hal yang mulia.
Beberapa orang memang memberikan sedekah untuk difabel ini dengan beragam macam alasan. Ada yang berdalih kasihan, salut atau mengaharap ridha Allah. Disinilah letak persepsi orang menilai mutu para difabel Indonesia. Apakah mungkin karena kurangnya pernghargaan terhadap mereka (terutama pada soal pekerjaan) yang selalu saja dipandang sebelah mata? Tidakkah pemerintah mau memebrikan secercah harapan saja terhadap eksistensi mereka? Padahal mereka pun manusia ciptaan tuhan yang memiliki hak hidup layak?
Tuhan memang maha adil. Insting mereka terbilang sangat kreatif. Akhirnya banyak yang memilih bekerja di jalur seni. Cukup banyak para difabel yang sukses dalam bidang musik, semisal Stevie Wonder yang berkiprah dengan cemerlang di dunia tarik suara. Malah finalis mamamia (kalo gak salah namanya Virza?!) selalu mendapat applause yang meriah setiap penampilannya bernyanyi.
Menurut saya, kekreatifan, kemampuan dan kesusksesan seseorang itu tidak hanya dilihat dari keutuhan jasmani mereka. Keteguhan dan keinginan yang kuat telah membuktikan kepada kita bahwa dengan keterbatasan jasmanipun mereka, para difabel, bisa terus berjuang mempertahankan hidup dalam persaingan yang semakin ketat.
Lalu, kenapa masih ada beberapa manusia yang malah merusak badan mereka dengan piercing atau tattoo? Bukankah mereka harus bersyukur atas anugerah sempurnaNya jasmaninya? Saya lebih baik berkaca pada sang lelaki pelantun Al-Qur’an ini.
Emh……..Nice story ya……
I like it