Kebenaran Hakiki Komunikasi Cinta Antar Pasangan
August 14, 2008 by lucysupratman
Adam dan Hawa, Trigger Komunikasi Interpersonal Pertama Sebetulnya, komunikasi interpersonal ini telah terjadi di Taman Firdaus tempat Adam dan Hawa tinggal sebelum dijatuhkan ke bumi. Allah SWT memilih Adam sebagai manusia pertama untuk mengadakan hubungan yang sangat intim dengan Hawa, manusia kedua yang Dia ciptakan sebagai mahluk yang dapat berkomunikasi. Adam berkomunikasi dengan Hawa secara interpersonal.Dalam keadaan yang demikian sempurna Iblis menawarkan hambatan komunikasi yang pertama dengan mengusahakan keraguan terhadap diri Adam. Iblis mempersuasi Hawa untuk mengajak Adam memakan buah Khuldi. Adam bertanya pada Hawa tentang rayuannya atas larangan Allah untuk memakan buah Khuldi. Sehingga pada akhirnya Adam terpedaya bujukan Hawa, yang merupakan suatu keberhasilan persuasif oleh Hawa terhadap Adam lewat komunikasi.
Ketika Adam dan Hawa jatuh ke bumi, maka komunikasi dengan Allah dan sesamanya retak. Sehingga sampai munculah pembunuhan pertama antara anak-anak Adam Hawa yaitu Habil dan Qabil. Manusia sebagai mahluk berkomunikasi yang membutuhkan orang lain, mulai mengalami penderitaan karena hubungan yang ia butuhkan itu terputus karena hubungan sosialnya rusak. Dampak dari rusaknya tatanan sosial itu, manusia mulai menderita keterasingan.Itulah yang terjadi saat ini dengan semakin individualistiknya manusia karena mengejar kehidupan duniawi semata. Padahal tanpa adanya manusia lain untuk membina komunikasi, dulangan amal-amal emas sebagai tiket masuk syurga akan sulit untuk diraih.
Weaver (1984) berkata, agar komunikasi interpersonal yang dilakukan menghasilkan hubungan interpersonal yang efektif, seseorang perlu bersikap terbuka dengan menggantikan sikap dogmatis. Selain itu dengan memiliki sikap percaya, sikap mendukung, dan terbuka yang mendorong terhadap sesama/significant others akan menimbulkan sikap saling memahami, menghargai dan saling mengembangkan kualitas. Hubungan interpersonal perlu ditumbuhkan dan ditingkatkan dengan memperbaiki hubungan dan kerjasama antara pribadi.
Secara kontekstual, komunikasi interpersonal digambarkan sebagai suatu komunikasi antara dua individu atau sedikit individu, yang mana individu-individu tersebut secara fisik saling berinteraksi, saling memberikan umpan balik, dan menggunakan beberapa titik sensor pada tubuh. Akan tetapi, menggunakan definisi kontekstual saja tidak cukup untuk menggambarkan komunikasi interpersonal karena tiap-tiap hubungan yang dijalani individu berbeda satu dengan lainnya. Seseorang tidak mungkin memukul rata setiap jenis komunikasi antara dua individu atau sedikit individu. Komunikasi yang terjadi antara penjaga toko dengan konsumennya tentu saja berbeda dengan komunikasi antara dua orang yang sudah bersahabat baik, meskipun kedua bentuk komunikasi itu sama-sama merupakan jenis komunikasi antara dua individu.
Efektifitas dalam komunikasi interpersonal akan mendorong terjadinya hubungan yang positif terhadap rekan, keluarga, dan klien bisnis. Sedikit yang menyadari pentingnya masalah interaksi antar manusia karena sebagian besar menganggap bahwa masalah kepemimpinan dan presentasi publik jauh lebih penting daripada hubungan antarmanusia, padahal pintar dalam komunikasi interpersonal merupakan aset yang penting dalam hubungan bermasyarakat dan tiket masuk ke surga.
Banyak orang-orang menjadi sukses karena mereka memiliki hubungan yang sangat baik dengan orang lain. Mereka menanamkan identitas yang positif kepada orang lain sehingga mereka memiliki image yang baik di mata masyarakat. Dengan demikian, mereka memiliki kesempatan lebih untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang baik. Ada juga yang beranggapan bahwa, kemampuan komunikasi interpersonal adalah bakat yang jatuh dari langit yang dianugrahkan Tuhan untuk orang tertentu saja. Padahal, komunikasi interpersonal pun bisa dilatih layaknya kemampuan-kemampuan soft lainnya.
Dengan menguasai komunikasi interpersonal sebenarnya seseorang membuka wawasan diri untuk mulai memahami orang lain di luar diri seseorang sendiri dengan demikian seseorang dapat berinteraksi secara positif dengan orang lain. Informasi-informasi yang seseorang dapatkan tentang orang lain dapat memudahkan seseorang untuk memprediksi bagaimana pola pikir individu tersebut, bagaimana cara mereka menyikapi suatu permasalahan, bagaimana pendapat dan perasaan mereka terhadap sesuatu hal. Apabila seseorang memiliki informasi-informasi seperti di atas, maka seseorang akan lebih mudah dalam menghadapi individu tersebut dan dapat meminimalkan kemungkinan-kemungkinan terjadinya konflik antara seseorang dengan orang lain.
Menurut Devito (1997), terdapat cara-cara yang bisa digunakan sebagai panduan dalam membangun komunikasi interpersonal yang efektif, yaitu :
· Menciptakan ketertarikan dan menangkap perhatian
Sudah menjadi sifat dasar manusia bahwa mereka lebih cenderung tertarik dengan dirinya sendiri ketimbang orang lain. Oleh karena itu, salah satu hal yang bisa seseorang lakukan agar orang lain menjadi tertarik dengan seseorang adalah dengan menumbuhkan ketertarikan seseorang terhadap orang tersebut. Dengan kata lain, berhentilah untuk membicarakan semua hal yang berkaitan dengan diri seseorang beserta tetek bengeknya, namun cobalah untuk lebih memberikan perhatian kepada lawan bicara seseorang. Ajaklah dia untuk mendiskusikan segala hal mengenai dirinya, seperti model pakaian yang ia sukai ataupun olahraga-olahraga yang ia gemari. Akan tetapi, dalam upaya menciptakan ketertarikan ini hendaknya seseorang juga memperhatikan hal-hal tertentu yang kira-kira tidak membuat lawan bicara seseorang merasa seperti diinvestigasi.
· Membangun rasa simpati
Maksudnya adalah bagaimana membangun suatu lingkungan komunikasi di mana lawan bicara seseorang merasa percaya diri saat berbicara dengan seseorang. Cara-caranya bisa dengan membuat suasana yang hangat saat berkomunikasi, menghilangkan suasana superior dan inferior, yakni bisa dengan kontak mata yang hangat dan bersahabat, menirukan bahasa tubuh lawan bicara, ataupun dengan menyebut-nyebut nama lawan bicara seseorang berulang-ulang untuk menunjukkan betapa seseorang menghormatinya.
· Percaya diri
Percaya diri sangat penting dalam berkomunikasi. Saat seseorang memiliki kepercayaan diri, maka yang terjadi seseorang akan membangun image diri seseorang kepada orang lain, akan tetapi kurangnya kepercayaan diri membuat seseorang akan dipseseorangng sebagai seorang yang memiliki posisi yang lemah. Terkadang, kurang percaya diri membuat seseorang sendiri menjadi tidak nyaman dalam berkomunikasi, gugup, gemetaran, merasa setiap apa yang seseorang utarakan adalah hal-hal yang sama sekali tidak berguna, kekhawatiran mengenai pseseorangngan orang lain terhadap seseorang dan berjuta-juta pikiran negatif lainnya dapat membuat komunikasi berjalan buruk karena seseorang hanya sibuk berkutat dengan ketakutan seseorang sendiri. Sebaliknya, percaya diri saat berkomunikasi dapat menciptakan energi yang positif. Komunikasi menjadi lancar dan jelas bahkan seseorang dapat mempengaruhi lawan bicara hanya dnegan bermodalkan kepercayaan diri.
· Mengaplikasikan kemampuan bertanya, mendengar dan diam
Ketiga hal penting itu adalah kemampuan bertanya, mendengarkan, dan diam. Sebagian besar komunikator efektif menggunakan ketiga skill ini. Siapa bilang orang yang aktif bicara adalah seorang yang mengagumkan dalam komunikasi. Akan tetapi orang yang lebih banyak mendengar justru menjadi orang yang disenangi dalam komunikasi. Diam dan mendengar di sini bukan berarti seseorang mendengar secara pasif. Akan tetapi, seseorang berusaha untuk mendengar secara aktif, memberikan respon-respon positif terhadap topik yang disampaikankan orang lain sembari sekali-sekali menimpali dengan pertanyaan-pertanyaan relevan yang menunjukkan bahwa seseorang memperhatikan apa yang sedang dibicarakan. Bayangkan betapa menjengkelkannya bila harus berlama-lama bicara dengan seseorang yang terus menerus berceloteh ini itu tanpa memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bicara. Yang harus diperhatikan adalah seseorang tetap berusaha untuk membedakan antara pendiam dan diam aktif. Orang yang pendiam kadang juga menjengkelkan. Akan tetapi, bertanya, mendengarkan, dan diam di sini tidak menunjukkan bahwa seseorang adalah seorang yang pendiam, namun lebih kepada menempatkan diri untuk lebih banyak mencerna topik yang sedang dibicarakan.
· Kejujuran dan empati
Menciptakan ketertarikan pada orang lain seperti pada poin satu sebenarnya adalah bagaimana seseorang membuat suatu bentuk ketertarikan pada orang lain dengan sebenar-benarnya. Bukan dengan dibuat-buat ataupun pura-pura tertarik. Kejujuran disini maksudnya adalah jujur dalam tertarik pada orang lain. Hal ini sangat penting karena biasanya ketertarikan dan perhatian yang dibuat-dibuat justru mudah untuk dikenali.
· Optimisme
Optimisme menekankan pada hal-hal positif yang didiskusikan dalam suatu komunikasi. Adakalanya dalam suatu komunikasi yang terjadi setiap harinya, ada banyak hal negatif yang dijadikan topik pembicaraan, seperti kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan. Komunikator yang baik tentu akan berusaha untuk menggiring setiap pembicaraan ke arah yang positif. Dengan kata lain, komunikator yang baik dapat memberikan respon positif yang dapat membuat komunikasi tidak hanya melulu berkutat pada hal-hal yang negatif, suasana optimis pun dapat tercipta. Itulah yang membedakan komunikator yang baik dengan orang yang hanya sekedar pseseorangi bicara. Komunikasi interpersonal bukan sekedar kemampuan untuk berorasi dan berdiskusi, namun lebih dari itu semua, komunikasi interpersonal membutuhkan empati dan simpati yang membuat orang lain merasa nyaman dan dihargai. - Lucy -