Refleksi Jiwa Lewat Imajiner Saya
August 7, 2008 by lucysupratman
August, 2008
Orang berkata cinta itu buta.. Akh, apanya yang buta! Justru cinta itu aneh, sekaligus unik. Aku pun merasakan itu karena mencintai seorang lelaki namun hatiku menolaknya. Alasannya karena ketidakyakinanku padanya. Hanya, tetap saja sesuatu mengggodaku untuk terus menerima lelaki itu. Ya, dia cinta pertamaku yang aku cintai dengan birahi. Lalu aku putuskan begitu saja. Padahal dia mencintaiku sepenuh hatinya.
Aku kembali menjalin hubungan dengan lelaki lain. Tentu saja aku putuskan lagi dan sampai saat ini aku terus melakukan itu. Tapi bayangan lelaki pertamaku terus saja membayang dalam angan-angan. Dia begitu jauh memang. Aku tak tahu apa dia masih bernyawa atau tidak. Yang pasti aku sangat merindukannya. Aku tahu bahwa cinta yang paling tinggi itu hanya pada Tuhan. Guru agamaku yang mengatakannya sewaktu aku masih SD. Dasar saja manusia beriman tipis, cintanya lebih pada sesuatu yang semu dan abstrak. Bukankah kita tidak akan abadi di dunia?
Pernah suatu waktu tak sengaja aku bertemu dengannya. Ooohh..dia begitu dekil, bau, kumal, setelah lama kutinggalkan. Jijik aku melihatnya, sambil buru-buru berpaling. Cinta itu memang unik, sampai-sampai ketika aku berduaan dengan setiap pacar-pacarku, aku begitu merindukannya. Tapi ia hanya membekas sebentar, lalu aku lupa padanya. Kekayaan pacar-pacarku, jalan-jalan ke Bali sebagai hari ultah, mengikis kangenku padanya.
Di suatu pagi yang cerah, aku bercermin dan tak sengaja menemukan segores keriput di dahi. Keesokan harinya keriput itu semakin berlipat-lipat dan memenuhi hampir seluruh tubuhku. Ternyata aku telah menjadi renta. Heran…..kenapa waktu bisa berjalan begitu cepat dalam kecintaanku pada kesenangan dunia. Dan tiba-tiba saja semua kemolekan dan kemegahan diriku menghilang. Semua pacar-pacarku memilih mengambil langkah seribu dibanding menemani si renta ini. “Heeeeeiiii…..kemanakah kalian pergi? Kenapa kalian meninggalkanku? Bukankah dulu aku yang kalian puja, si cantik nan agung“ Jeritku.
Memang aku bukan lagi seorang gadis, tapi aku bisa melakukan operasi plastik. Bukankah dengan uang segala sesuatu bisa didapat. Aku pasti bisa mendapatkan wajah muda kembali. Dan aku memang muda kembali. Lalu aku rayakan kejayaanku dengan menghabiskan seluruh hartaku untuk minum-munim dan berpesta pora.
Dalam waktu sekejap, semua habis tak tersisa. Seakan-akan sesuatu telah menyihir lalu meneggelamkan kemegahan yang aku punya. Tak ada lagi night party, minuman keras atau lelaki. Lelaki? Huh, jelas saja mereka tak mau bercinta dengan wanita berbau tanah dan miskin. Walau aku memohon seribu kali pun untuk dikasihani, mereka malah akan meludahi, mendamprat dan melempar keluar klab malam.
Aku menangis meratapi semuanya. Diriku sengsara. Sungguh benar apa yang dikatakan Allah SWT dalam firman-Nya, tak ada yang abadi di dunia fana ini. Hanya Dzat-lah yang abadi menguasai alam semesta.
Ketika aku menangis tersendu, cinta pertamaku tiba-tiba datang mengusap. Ternyata dia tidak pernah mau meninggalkanku. Dia masih setia menunggu dengan sabar sampai ku tersadar. Sadar akan keegoisan, kerakusan, perselingkuhan, kesenangan hedonisme yang telah menyengsarakan pacar pertamaku, Jiwa.
Ya, sang Jiwa terus menunggu datangnya kebaikan. Ia begitu kurus, dekil dan kumal. Aku tidak mengakui Jiwa padahal kesetiannya padaku tak terelakan. Pernahkah aku merawat Jiwa? Atau sekadar tersenyum pada Jiwa? Tidak. Malah aku memandang jijik padanya seakan dia adalah kotoran manusia. Bila saja dulu aku memilih bersama dengannya, Jiwa ku akan lebih bersih. Saat ini, Jiwa yang dekil, kumal dan bau tengah duduk disampingku. Ia masih menawarkan kesudiaannya untuk menerimaku sebagai pendamping hidup.
Nb: Tersinspirasi dari salah seorang teman
hmmmm….ruar biasa…
cinta buta, unik.?? memang demikian adanya. semua orang boleh memaknai sesuai pengalamannya, dan tentu pengetahuan akan cinta itu sendiri.
aku. ya aku pernah merasakan itu. aku tersanjung karena cinta dan aku semangat karenanya. Namun aku juga pernah terkapar karena cinta. cinta terlarang, terhalang oleh kasta. sakit rasanya. semua pengharapan akan dunia menjadi sirna karenanya. jalanku gontai, tatapanku kosong, jiwaku hampa. hampa.
sampai-sampai tak kenali lagi diri ini. kalau saja bukan karena umi, mungkin aku sudah berbuat, yang kata orang sebagai perbuatan gila.
karena umi pula aku lari, aku tinggalkan cinta, demi sebuah cinta yang lebih rahmah. cinta yang memberiku kedamaian. cinta yang tidak memalingkanku kepada dzat yang sesunguhnya wajib dicintai. Alloh azawala.
namun cinta itu entah dimana adanya. aku masih mencari keberadaanya. tak ada satu alasanpun bagiku untuk merendahkan diri kepada cinta. pun demikian soal kasta sama sekali bergeming dengan semua itu.
aku akan temukan cinta itu, dengan satu keyakinan, kekusaan allah.
sekalipun aku kata cinta terlarang. sejatinya cinta milik semua orang. tak pernah ada pembenaran, kepada si penghalang cinta.
hanya kepada pemilik cintalah kita meminta cinta. allahu a’lam.