Sensasi Dialog (Kepuasanku)-Cerpen Saya
August 10, 2008 by lucysupratman
Has Been Printed at Galamedia Neswpaper
“Lalu, kenapa kamu malah membunuhnya?” Kaca bertanya keheranan.
“Demi sebuah cinta abadi aku menusuknya.” Aku menjawab dengan enteng.
“Tapi dia mencintaimu sepenuh hati?” Kaca bertanya lagi.
“Mencintaiku bukan berarti aku tega melihatnya menderita seumur hidup.” Aku mengelak.
Memiliki dan memberikan cinta adalah anugerah terindah dari Tuhan. Andreas mengajariku itu semua. Kami saling menyayangi, namun aku lebih menyayanginya dengan menghunuskan pisau di dadanya.
“Kau jahat! Kau membiarkannya mati…” Tuduh Kaca.
“Aku puas.” Kataku seraya memejamkan mata.
“Kau membunuhnya, tahu?” Kaca berubah geram.
“Ya, aku pun menjilati sisa darah segar di pisau itu.” Jawabku tanpa rasa bersalah.
“Tak berkeprimanusian. Tak manusiawi” Bentak Kaca.
“Aku puas.” Masih memejamkan mata
“Bodoh, kau bisa masuk penjara.” Kaca berargumen.
“Penjara lebih baik daripada aku terlunta-lunta hidup tanpanya.”. Aku menyanggah.
“Dengar, polisi akan datang sebentar lagi. Lalu kau akan
menyerahkan dirimu begitu saja?” Kaca bingung.
“Aku akan menyerahkan diri. Tindakanku benar.” Aku berusaha meyakinkan diri.
“Kau tak akan punya kebebasan lagi, dasar wanita tolol!” Ejek Kaca.
“Lari…larikan dirimu…” Teriaknya.
“Tidak. Aku tak mau lari. Tak mau bebas.” Kataku sinis.
“Apa kau gila? Lalu, kenapa kau malah menelfon polisi?” Kaca semakin terheran-heran.
“Aku serahkan diriku agar Andreas tahu aku bertanggung jawab atas kematiannya. Karena aku tulus mencintainya.” Lirihku.
“Tulus mencintai tapi membunuhnya secara keji? Itu bukan cinta!” Tuduh Kaca.
“Itu cinta tulus. Pengorbananku akan membuatnya bahagia” Aku berusaha mengelak.
**
“Jadi nona dalam keadaan sadar menusuk korban?” Opsir Herman meminta penjelasanku.
“Dengan sangat sadar, pak.” Tegasku.
“Motif apa yang melatar belakangi keinginan nona? Apa dia bertindak kasar lalu nona melawan balik?” Opsir Herman seakan membela agar aku tidak dijadikan tersangka utama.
“Karena aku menyayanginya.” Jawabku datar.
“Menyayangi? Maksud nona?” Opsir Bambang menimpali dengan terheran-heran.
“Aku menyayangi Andreas sepenuh hatiku maka aku bunuh dia.” Aku tatap tajam mata opsir untuk meyakininya.
**
“Apa kau berpikir dia gila?” Tanya opsir Bambang.
“Entahlah. Tapi aku tadi sudah bicara dengan psikiatris.” Jawab opsir Herman.
“Hasilnya?”
“Dia tidak gila. Waras. Mungkin depresi.” Jelas opsir Herman.
“Depresi karena si korban selingkuh atau…” Opsir Bambang berusaha menebak.
“Bukan.” Opsir Herman menggelengkan kepalanya.
“Lalu apa?” Opsir Bambang penasaran.
“Takut kehilangan cintanya. Itu saja.”
“Kok bisa nekat gitu ya bunuh si korban?” Opsir Bambang garuk-garuk kepala.
“Tak tahu lah.” Opsir Herman menaikkan bahunya.
“Lalu, kenapa kemana-kemana dia suka bawa kaca kecil. Wanita aneh!” Opsir Bambang menerawang ke atas, berpikir.
**
“Aku tahu aku salah. Maafkanku.” Aku memelas.
“Benar kan! Kau pasti masuk penjara.” Ejek Kaca.
“Tapi aku tak punya pilihan lain selain membunuhnya.” Kataku dengan suara tinggi.
“Aku mengerti kau tak ingin ia menderita lebih lama…seharus..”
“Aku menyayanginya. Di penjara ini gelap, pengap. Aku kangen dia.” Potongku pada Kaca.
“Seharusnya kau melarikan diri setelah membunuh dia.” Geram Kaca melanjutkan kalimat yang kupotong tadi.
“Tidak! Dia akan menghantuiku selamanya.” Wajahku pucat pasi.
“Tak mungkin dia hidup lagi. Orang mati ya pasti mati.” Kaca mentertawaiku.
“ ………….” Aku terdiam.
“Baiknya kau bunuh dia dengan racun. Bukan dengan pisau.” Kaca menatapku tajam.
“ ………….” Aku masih tak bergeming seribu bahasa.
“Racun akan seperti tindakan bunuh diri. Perlahan tapi pasti.” Tambahnya.
“Kau benar. Aku menyesal memakai pisau dapur.” Suaraku berubah parau.
“Penyesalan itu sudah lewat. Semua telah terjadi.” Kata Kaca.
“Aku hanya tidak ingin dokter yang menyuntik mati dia. Aku tidak rela.” Sambil menggigit bibir menahan tangis.
“Suntikan itu lebih legal, bodoh! Euthanasia itu legal. Kau tusuk
dia, itu yang tidak legal.” Kaca menyentakku.
“Aku ingin dia menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuanku.” Aku menangis sambil menutup muka.
“Dengan membunuhnya?” Kaca berteriak kesal.
“Tapi aku puas…hik hik hik. Puas melihat senyuman terimakasih di parasnya.” Isakku.
“Pengorbananmu itu keterlaluan.” Kaca menggelengkan kepalanya.
“Tapi aku puas…hik hik hik. Puas melepaskan derita leukimianya.” Aku meratap memandangi Kaca.
“Sinting! Menyerahkan diri ke penjara setelahnya?” Tersenyum getir.
“Terserah kaulah.” Kaca mengaku lelah dengan perdebatan yang tak ada habisnya.
Lalu kupecahkan Kaca hingga berkeping-keping seperti air mataku. Aku ambil satu potongan Kaca lalu kugoreskan pada nadiku. Pergelanganku tersobek. Sobek yang begitu dalam. Darah segar mengalir deras. Mengalir bagaikan darah segar Andreas. Kaca hanya bisa melongo melihat tindakanku.
“Jangan. Jangan kau buat aku membunuhmu. Aku tak mau jadi pembunuh sepertimu.” Jeritnya ketakutan.
“Tapi Kaca, aku sangat puas” ***