Catatan Kecil Saya tentang ECC Hari Kemarin
October 25, 2008 by lucysupratman
Ketika Cindy, Matt, Tise, Dendy dan Deasy (the ECC Commitee) meminta saya untuk mengisi kembali klub percakapan yang diadakan sebulan dua kali sebagai instruktur, langsung saya amini. Tetapi, atmosfir klub kemarin jauh berbeda dengan tahun-tahun kemarin.
Kok bisa? Iya, sebenarnya saya agak terperangah dengan opini para anggota ECC (English Conversation Club) yang diadakan mahasiswa-mahasiswi fakultas sastra unpas itu mengenai diskursus gender yang saya angkat sebagai motion debate di conversation club kemarin.Yup, perdebatan yang mayoritas beralibi dengan usungan kesetaraan hak wanita yang sama dengan lelaki menjadi isu heboh di kelas.Wajar saja, sebab kala itu peserta ECC lebih didominasi oleh mahasiswi dibanding mahasiswa.“We want the equality, Miss Lucy!!”, kata seorang mahasiswi peserta ECC yang mendebat pernyataan seorang mahasiswa yang paradigmanya begitu patriarki.
Saya baru tersadar akan aura antusiasme mereka (para kaum hawa) untuk menyetarakan persamaan di setiap lini kehidupan.Saya lalu berseloroh yang langsung diikuti surakan para mahasiswa lelaki,“Hey, how if we change this world to be a matriarki world”.Hehehehehe ternyata debat semakin memanas saja gara-gara koinsiden celetukan saya (padahal AC di ruangan kelas dingin banget bo..)
Seorang mahasiswi berkerudung malah mengatakan bahwa di zaman jahiliyah, wanita tidak memiliki hak sama sekali.Apalagi hak untuk hidup layak.Selain dia, ada juga mahasiswa yang berpikiran radikal memandang feminisme ini.“It’s better for woman to show our real power to man.We’re not weak because of giving birth, feeding the babies then nurturing them”, kata mahasiswi lain yang sepertinya menggebu-gebu sekali menjadi opponent.
Saya hanya menjadi penengah.Bukan berarti saya pro dan kontra terhadap topik yang ujug-ujug ada dalam benak pikiran saya untuk dijadikan topik perdebatan di klub kemarin.Hanya saja sewaktu saya menonton film Laskar Pelangi dengan seorang teman dari Jakarta di bioskop baru-baru ini, ada sebuah film nyeleneh yang juga ditayangkan di bioskop itu.Film itu berjudul, ‘Kutunggu Jandamu” dengan model penyanyi dangdut Dewi Persik sebagai iconnya. Hmmm.. saya memiliki kesan pajangan wanita di film itu seperti objek komersialisasi seks saja ya.Semacam diskrimasi halus yang memperlihatkan kemolekan atau keseksian anggota tubuh wanita untuk dijadikan wild imagination pria tertentu.
Pada hakekatnya, feminisme bukan berarti harus mensejajarkan fungsi atau peran dengan lelaki.R.A Kartini sebagai usungan emansipasi wanita Indonesia melalui karyanya, ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, berfilosofi untuk mendorong wanita Indonesia tempo dulu untuk bangkit dari kebodohan/iliterasi.Wanita memiliki hal untuk mengenyam pendidikan formal pula, sama seperti lelaki.Namun tetap tidak melupakan kodratnya sebagai wanita dalam ranah domestik.Selain itu, Surat Ali Imran ayat 36 saja mengatakan ‘Dan anak laki-laki tidaklah sama dengan anak wanita (berbeda fitrah fungsi-usaha)’.
Hanya bila berkiblat pada feminisme barat yang liberal, radikal dan sosialis, memang begitulah realitanya.Tuntutan persamaan tereskspos sangat jelas.Malah feminsime radikal menyuarakan suara ketidaksetujuan pada pernikahan lawan jenis dan melegalkan pengkloningan manusia.Feminsime barat sepertinya menganggap lelaki itu musuh/rival yang harus ditaklukan, atau bisa juga kompetitor sejati.Maka tak heran bila tingkat single parent semakin meningkat saja disana.
Waktu terus berjalan, hampir satu setengah jam.Buru-buru saya cut perdebatan itu karena waktu saya telah usai.Cooling down sesaat menurunkan hawa panas tadi dengan mendedangkan sebuah lagu mellow yang sudah saya siapkan di awal pertemuan tadi….Lalu diambil alih oleh para panitia ECC yang menutup pertemuan kemarin sambil samar-samar terdengar bisikan mereka satu sama lain, “Apa iya bias gender terus terjadi di Indonesia?”
Akhirnya, perdebatan pun dilanjutkan di luar kelas……..
NB: Sukses n Maju Terus boeat ECC FISS Unpas!
