Kisah Heboh Saya di Akhir Tahun
November 30, 2008 by lucysupratman
Layaknya kota romantis di Vanesia dengan sungai-sungai yang mengitari rumah-rumah sambil berduaan di atas gondola, memang menyenangkan.Tapi bila keadaan itu terjadi di daerah yang tidak biasa dialiri sungai, memang bukan menyenangkan lagi.Melainkan suatu disaster.
Minggu kemarin rumah saya bagaikan kota vanesia itu, dengan air berwarna coklat setinggi 1 cm yang mengalir di depan pekarangan rumah.Sudah pasti aliran-aliran deras itu masuk ke dalam rumah membahasahi sekitaran ruang tamu dan beberapa ruangan lainnya.Ya, rumah saya KEBANJIRAAAAAAAAN!!!!!
Perumahan sekitaran cibiru ini baru sekali terkena banjir sebesar kemarin.Karena hujan es dan beberapa tanggul yang bocor, delapan blok terendam air yang baru surut tadi shubuh.Saya juga sempat kelabakan ketika orang di rumah mengabarkan banjir kemungkinan semakin meninggi karena luapan air dari tanggul bocor itu terus saja menggenangi ratusan rumah di komplek saya. Sebab ketika itu, saya tengah berada di Lab kampus.Buru-buru saya meluncur ke rumah dengan kenekatan luar biasa.Menerjang banjir ….banjir yang bukan main-main, sebab banyak barang-barang milik kios-kios atau milik warga yang mengambang di atas derasnya air.Saya terobos saja derasnya air bercampur tanah itutanpa mempedulikan kemeja dan tas kerja saya.I heck dont care..
Tragisnya terdapat seorang korban jiwa, bocah lelaki di Blok G.Almarhum adalah anak dari seorang wartawan media cetak.Spontan saja nama komplek tempat saya tinggal digegerkan dengan kematian bocah itu sekaligus parahnya tanggul yang jebol di beberapa koran lokal dan televisi Bandung.Kronologis meninggalnya anak lelaki itu ketika ia tengah asyik bermain dengan teman-temannya di luapan banjir itu, secara tak sengaja tersetrum listrik yang konslet.Sang Ibu begitu histeris dengan tragedi ini, apalgi sang bapak tengah meliput suatu berita di Propinsi Bali.Ya Allah, semoga mereka diberikan kekuatan untuk menghadapi cobaan ini.
Ya begitulah peristiwa heboh yang saya alami kamis kemarin itu.Saya jadi ikut merasakan atau lebih tepatnya berempati pada para korban lumpur di Sidoarjo atau korban kebanjiran yang pernah juga terjadi di Jakarta.Sebab dampak yang dialami setelah banjir ini bukan hanya harta, tetapi rasa traumatic yang mengginggap.
Teringatlah akan kejadian sore itu.Kketika hujan disertai luapan air yang terus meneaik pun, Ibu serta adik saya terus berucap asma Allah sambil memegang kitab suci Al-Qur’an di lantai 2 rumah.Sebab lantai 1 rumah (ruang tamu) sudahtergenag air yang susah untuk dibendung lagi.Sedang ayah saya sibuk menaik-naikkan/menyelematkan barang-barang elektronik ditambah buku-buku ke lantai atas.Guntur yang semakin mengkilat-kilat ditambah gemuruhnya angin.Apa ketakutan ini yang dialami juga oleh para korban Tsunami di Aceh?Untunglah sekarang Aceh telah kembali pulih.
Saya merasa sangat bersyukur karena banjir yang saya alami telah berakhir.Walau sisa lumpur-lumpur masih cukup padat untuk dibersihkan.Mungkin pihak developer akan segera turun tangan menangani masalah ini.Sebab bila tanggul bocor itu belum diperbaiki, kerugian warga akan semakin parah. Masyaallah!!!!!