Terbit di Koran Harian Galamedia
Mencari Kematian
Oleh: Lucy Pujasari Supratman
Mati! Apakah aku telah mati? Apakah rohku telah terbang mengawang-awang di udara dan jasadku habis dimakan rayap-rayap serta cacing yang rakus? Tak tahulah… Yang pasti, aku sudah merasa mati walau jantungku memompa aliran darah ke arteri sehingga aku masih bisa menghirup udara kebusukan. Aku selalu melihat dengan tatapan jijik terhadap semua orang semenjak itu.
Hari dimana pertama kalinya aku berperan sebagai seorang wayang kecil di dunia ini. Tepatnya sebelum aku berpikir akan mati. Ketika lahir, ibu kandung meninggalkanku karena hubungan gelapnya. Seorang wanita yang sangat tepat dijuluki sebagai wanita medusa. Ya, wanita yang berwujud kepala ular.
Aku ditinggal sendirian dekat pembuangan sampah. Betapa aku merasa kedinginan tanpa selimut bayi nan hangat serta pelukan lembut seorang ibu. Mudah-mudahan Tuhan mengutukmu! Aku juga mengutukmu serta lelaki bejat yang memberi sperma di ovum ular. Entah itu karena kebablasan atau apalah. Rasanya tak pantas bagiku memanggilmu ibu. Karena bagiku seorang ibu adalah wanita yang bisa memberikan kehangatan jiwa.
Seorang lelaki separuh baya memungutku yang hanya berbungkuskan koran bekas. Dia cukup berkelas. Mobilnya berdecit dengan rem pakem dan menghampiriku yang sedang terbengong-bengong dengan babak baru kehidupanku, setelah dunia kandungan bunting ular itu. Ia buru-buru bergegas menggendong dan memasukanku ke dalam mobilnya sebab takut dilihat orang.
Aku heran, kenapa dia mau memungut bayi bau yang tergolek di tempat sampah. Lelaki itu pun sama sekali tidak melaporkan pada pihak berwajib tentang seorang wanita ular yang membuang telurnya. Ia juga tidak menghubungi panti asuhan. “Aneh sekali lelaki ini”, batin polos kecilku berkata.
Setelah meletakkanku di jok mobilnya, dia lalu melirikku cukup lama di dalam mobilnya yang ber-AC. Dia melihatku sebagai seorang bayi ranum yang cantik, dan berkomersil. Tiba-tiba aku menangis sangat keras, karena aku lapar.
**
Sesampai di rumahnya yang megah, aku disambut oleh seorang wanita. Harum mewangi sekujur badannya ditambah kemolekan paras karena make-up yang tebal membuatku langsung terdiam. Seakan terhipnotis pada aura pesona istri lelaki itu, rasa laparku hilang begitu saja. Ia berbeda dengan si ular. Ia wanita bengis! Sedang wanita ini justru begitu menyejukkkan. Dia menggendongku, lalu mulai menetekiku. Susunya begitu ranum, kulitnya putih bersih. Aku habiskan makan malamku itu dengan rakusnya sambil mendelikkan kedua mataku ke kanan dan kiri. Oh, ternyata satu anak yang juga masih bayi tengah berada diranjang lain.
Beberapa tahun berlalu, aku tumbuh menjadi remaja baik karena lelaki dan wanita itu orang baik, walau pun sebenarnya hanya berpura-pura baik. Namun aku jadi bejat, karena pacarku bejat. Setelah menghamiliku, dia malah lari dari tanggung jawab. Betapa bodohnnya menelan mentah rayuan buaya. Mereka menyuruku membesarkan si jabang bayi. Tak terbesit rasa kekesalan di hati kedua orang tua angkatku. Hingga suatu saat aku mengalami keguguran. Mereka tidak juga kesal….
Mungkin ini gen si ular. Setelah pengkhianatan pacar pertama, aku menjadi lebih pendendam. Aku jadi lebih suka mematukan bisaku pada setiap adam daripada menjalin hubungan serius. Banyak yang bilang aku memang sangat menarik. Wanita muda berhidung mancung, berkulit mulus, sintal dan berbuahdada montok. Sehingga mudah saja bagiku untuk mencari lelaki dan membunuhnya dengan racunku.
**
Ayah dan ibu tiriku adalah seorang pengusaha night club yang sukses. Aku tinggal bersama seorang saudara lelaki tiri yang umurnya 2 tahun lebih tua. Aku suka meggodanya. Awalnya hanya kerlingan mata. Dia terlihat menolak. Tapi lama kelamaan, dia kalah tergoda dan jatuh dipelukanku.
Aku sering datang ke kamar dia setiap malam. Ohh….aku suka sekali melihat bulu-bulu lebat yang tumbuh didadanya yang bidang. Akhirnya kami bercumbu semalam suntuk. Bram jadi ketagihan. Dia bilang, ”Melakukan hal ini merupakan suatu euphoria tiada akhirnya bagiku”. Terkadang kami lakukan di sofa, kamarku atau kamar mandi. Pernah sekali pembantuku memergoki kami berdua-duaan. Tanpa seijin kedua oang tua tiriku, aku pecat dia. Takut rahasia kami terbongkar. Bram setuju saja.
Suatu malam setelah aku bercinta dengan kakak tiriku, aku bermimpi seekor Phyton menelanku bulat-bulat. Bukan hari ini saja. Mimpi tersebut terus saja aku alami. Pertanda burukkah?
**
Di hari yang mengenaskan itu, kedua orang tua tiriku pulang tanpa memberitahu kami berdua. Kami sedang menikmati permainan gila seperti malam-malam biasanya. Ayah dan ibu tiriku begitu geram setelah menyaksikan apa yang tengah kami berdua lakukan di sofa. Akhirnya kami berdua dikirim ke tempat klub malam yang ternyata adalah rumah bordil milik lelaki dan wanita itu.
Aku dan Bram diharapkan menjadi pewaris usaha rumah bordil milik mereka. Karena mereka tak bisa memiliki keturunan, akhirnya mereka memungutku tanpa harus melalui proses panti asuhan yang bertele-tele seperti ketika mengadopsi Bram di panti asuhan.
Di rumah bordil, aku langsung menjadi primadona para hidung belang. Meneruskan cita-cita Ibu kandungku, si ular phyton. Hingga aku terkena AIDS karena seringnya berganti-ganti pasangan setiap malam. Saat itulah aku baru merasa benar-benar mati. ***
Note: Untuk Memperingati Hari AIDS se-Dunia.
Free Sex No Way…. No Sex Before Married, Okay Guys?
Posted in sastra | 2 Comments »





