Feed on
Posts
comments

Jet Lee, We Love You

Kegiatan jalan santai ke punclut adalah jadwal rutin mingguan keluarga. Secara tak sengaja, adik saya memelototi seekor kelinci yang dipajang di sepanjang jalan setapak itu. Cindy langsung menyukai dia. Herannya, kami juga langsung jatuh cinta pada pandangan pertama melihatnya di tempat penjualan kelinci-kelinci hias. Kami membeli Jet Lee di usia 2 bulan (masih liliput gitu deh ukuran badannya). Bulan September tahun 2008 ini ulang tahunnya yang ke 2. Akhirnya dia telah menajdi dewasa. Seekor jantan gagah berumur 2 tahun.

Dulu awalnya kesulitan juga mengurus si mungil Jet Lee karena pipis serta hajatnya yang sembarangan. Ditambah waktu memandikan Jet Lee setiap bulan yang selalu gak mau diem saat bulu-bulunya dikeringkan dengan hair dryer.

Sekarang sih dia sudah mandiri. Setiap kali kami membebaskan dia berkeliaran di dalam rumah, saat dia mau pipis atau buang hajat, buru-buru Jet Lee masuk ke kandangnya. Setelah selesai, dia keluar dari kandang lagi untuk berlanjut bermain menggigiti gorden atau kain-kain yang ada di sekitar ruangan. Makin dia dewasa, porsi makannya semakin banyak. Sehari bisa menghabiskan 6 ikat kangkung, 15 baby carrot, semangkuk pakan kelinci, plus macam-macam biskuit. Keponakan saya, Michelle pernah berkomentar, ‘Teh Lucy, kok Jet Lee kayak manusia. Mamam nya biskuit malkist!’. Saya juga bingung karena tak tahu harus jawab apa. Itulah dasar keunikan kelinci kami, Jet Lee.

Jet Lee mempunyai bahasa khusus sendiri untuk berkomunikasi dengan kami lho. Misalnya kalo jet lee merendahkan dagu/menjulurkan kepala ke depan, tandanya ingin dimanja (ditepuk-tepuk lepalanya). Pernah juga dia meloncat-loncat tinggi, artinya suasana hati dia seedang bahagia. Kalau butuh teman untuk bermain, Jet Lee pasti lari-lari melingkar di lantai. Pernah juga saat buka puasa dan hujan turun deras di Bandung, Jet Lee menyembunyikan telinga panjangnya. Tandanya dia itu ketakutan. Akhirnya kami simpan kedalam rumah, eh mulai deh dia lompat-lompat lagi. Ya, semakin kesini Jet Lee memang makin manja. Walau begitu, kami sayang Jet Lee ..

Show amal yang menarik dilakukan kala bulan puasa dengan bintang tamu anak-anak jalanan yang dibina oleh Rumah Musik Almarhum Harry Roesli di Jalan Supratman. Semua yang mendengar pastinya akan berdecak kagum menyaksikan kehebatan bocah-bocah jalanan ini mengekspresikan musiknya. Gaya musik akusitik dengan sentuhan lagu-lagu latin, barat serta islamik mewarnai sore itu. Genre nya hampir sama seperti grup musik TATALOE (kebetulan Dadi, yang salah satu player-nya adalah teman saya mengatakan hal serupa).

Saya sempat mewancarai anak kandung kedua Alm Kang Roesli (Kang Layala Roesli) yang membimbing sekelompok anak jalanan ini (lelaki tangguh berperawakan subur yang memakai kemeja hitam di foto). Mereka dididik secara sukarela tanpa bayaran untuk menguasai alat musik seperti biola, gitar, ukulele, organ, drum dll sehingga bakat musik yang dimiliki tersalurkan. “Musik itu universal, semua orang boleh berekspresi”, begitu katanya.

Mereka sudah pernah menampilkan sebuah kolaborasi unik musik tradisional dengan musik pencampuran seni gamelan dan Jazz dengan musisi Indonesia plus mancanegara.  Rumah musik ini berdiri sejak tahun 1998 dan mempunyai sifat tersendiri, yaitu tidak memisahkan esensi ’seni’ dengan seni musik dan seni tari.   Teman saya Dadi juga sempat mengajar di RMHR. Dia mengatakan pelatihan musik (RMHR) tidak hanya diikuti oleh musisi jalanan, tetapi anak-anak cacat fisik juga autis. Prestasi mereka juga cukup hebat, salah satunya dengan mengikuti acara bergengsi Youth Music Festival.

Berlanjut pada bocah-bocah yang masih malu-malu ketika saya tanya mengenai harapn mereka di masa depan nanti. Mayoritas dari keinginan mereka adalah ingin menjadi pemusik-pemusin Indonesia sejati, juga meneruskan cita-cita Alm Harry Roesli menebarkan penguasaan ilmu musik ini pada sesama anak jalanan dengan membangun sekolah musik seperti yang dimiliki almarhum. Keluguannya sangat menggemaskan saya. Apalagi ketika mereka sudah mulai memainkan 4 lagu berdurasi 30 menit. Two Thumbs Up Bro! Tidak akan ada menyangka alunan musik itu dimainkan oleh sekaliber anak-anak jalanan. Serasa menonton konser musik sungguhan saja jadinya.

Semoga Cita dan Harapan Kalian Terwujud, Para Anak-Anak Bangsa ….

dan Semoga Segala Amalan Mulia Almarhum Kang Harry Roeli pun Diterima Allah SWT….

Amin

 Allah berfirman,”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Surat Al-Baqarah 2:30).

 

Ich gerad die Fallen Liebe

und nicht Wissen

Wer ist der Mann?

wegen Leber noch Spreche

Zu Gott der Wille

Now, I’ll Wait in a Sincere Heart of Mine….

September 12, 2008 (5:20 das morgen)

Budaya konsumerisme yang merupakan jantung dari kapitalisme adalah sebuah budaya yang di dalamnya terdapat berbagai bentuk halusinasi, mimpi, artifisialitas, kemasan wujud komoditi, yang kemudian dikonstruksi secara sosial melalui komunikasi ekonomi (iklan, show, media dan sebagainya) sebagai kekuatan tanda (semiotic power) kapitalisme.

Budaya konsumsen membuka peluang bagi konsumsi produktif dengan menjajikan kehidupan pribadi yang indah dan memuaskan: menemukan kepribadian melalui perubahan diri dan gaya hidup. Budaya konsumen, meski tidak sama dengan budaya masa kini, merupakan unsur utama dalam produksi budaya masa kini. Meskipun kelompok-kelompok yang berada di luar atau mencoba menjauhkan diri dari jangkauan pasar dan perilaku melawan arus, seperti misalnya sub-budaya remaja dan gerakan-gerakan sosial baru, dinamika proses pasar yang selalu mengejar yang ‘baru’ itu menyebabkan budaya konsumen dapat merajut dan mengolah ulang tradisi dan gaya hidup mutakhir.

Budaya masyarakat konsumen sering diberi ciri materialistis dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengungkapkan kemiskinan rohani dan tindakan mementingkan diri sendiri yang hedonistis dimana individu memusatkan kehidupannya pada konsumsi barang-barang. Pandangan ini sebenarnya mengatakan bahwa masyarakat telah memperlihatkan kemenangan rasionalitas ekonomi yang menyingkirkan adat istiadat tradisional serta nilai-nilai budaya leluhur dan menghasilkan budaya yang tidak menarik.

Seluruh kegiatan peragaan lay out bertujuan membuat barang tampak lebih bagus dari yang sebenarnya, dengan memanipulasi kesan di lay out itu. Logika pemajangan menghasilkan suatu situasi di mana makna dialihkan secara ‘ajaib’ ke barang melalui suatu proses elisi. Karena itu membeli barang berarti membeli kesan dan pengalaman, dan kegiatan berbelanja bukan lagi suatu transaksi ekonomi ‘sederhana’, melainkan lebih merupakan interaksi simbolis di mana individu membeli dan mengkonsumsi kesan.

Tindakan membeli itu tergeser ke belakang, karena individu didorong untuk menikmati konsumsi gaya hidup. Para individu tersebut menjadi peraga yang sadar akan penampilannya dan kesan yang diberikannya ketika menyusuri dunia barang yang dipertontonkan dalam ruang-ruang di luas kota. Pariwisata dan kebun raya (Taman Mini Indonesia Indah/TMII dan Dunia Fantasi/DUFAN, misalnya) meneruskan logika ini sampai ke titik ekstremnya. Kedua-duanya menjual pengalaman, bukan menjual barang.

Inilah yang menyebabkan Jameson (1984) menempatkan budaya sebagai pemeran utama dalam reproduksi kapitalisme masa kini. Karena unsur pokok masyarakat konsumen itulah tidak ada masyarakat yang dibanjiri tanda dan berbagai kesan seperti masyarakat ini.” Karena itu, ciri kedua budaya konsumen yang harus ditekankan adalah bahwa budaya konsumen ialah suatu budaya tempat berbagai kesan memainkan peranana utama. Sejauh ini telah dikemukakan betapa banyaknya makna baru terkait pada komoditi “material” melalui peragaan dan pesan iklan. Tetapi perlu pula dikemukakan, produksi berbagai kesan sebagai komoditi merupakan ciri utama budaya konsumen. Dan industri gambar hidup, surat kabar murah, media massa, majalah, dan televisi mencipta dan menyebarkan berbagai kesan tanpa henti. Kesan-kesan ini tidak dapat dikatakan membentuk ideologi pokok yang utuh karena kesan terus-menerus diproses ulang dan makna barang dan pengalaman tersebut didefiniskan kembali. Segala-galanya dapat dipertukarkan satu sama lain, dan tampaknya tidak ada batas ke mana berbagai makna yang jelas dan berdiri sendiri-sendiri dapat dipertukarkan. Seperti bintang film atau bintang pop menjadi tokoh politik (Arnold Swazneger, Gusti Randa), tokoh politik menjadi bintang film (Ruhut Sitompul, Ronald Reagen). Tradisi juga diaduk-aduk dan dikuras untuk mencari simbol ketampanan, roman, kemewahan, dan eksotika yang manjur. Kesan budaya konsumen dan iklan pada dasarnya bersifat modernis, sepanjang mengenai ganti-mengganti tata nilai dan meruntuhkan titik acuan tradisonal dalam usahanya meramu paduan baru yang mampu membangkitkan kembali kenangan dan merangsang keinginan. Dalam arti inilah budaya konsumen itu menjadi suatu “dunia mimpi” yang mengandung suatu momen positif atau utopia dalam janjinya menciptakan barang berlimpah ruah.

Dalam budaya konsumen masa kini, gaya hidup mendapat kedudukan istimewa. Perilaku konsumsi tidak berarti menyerap komoditi produksi massa secara pasif dan mengikuti arus. Tekanan diletakan pada merancang ulang dan mengerjakan ulang komoditi (komoditi itu sendiri sudah merupakan pilihan) untuk menciptakan kesan gaya yang menyingkapkan individualitas pemiliknya.

 

Kekaburan Budaya Konsumen di Negara-negara Maju

Demistifikasi budaya intelektual umumnya dan menciptakan kekaburan baru dalam tata simbol, karena kegiatan media massa ini mengejar segala yang baru dalam tata symbol dan modern. Pertukaran ini, yaitu kepekaan kaum intelektual terhadap gaya baru dan permintaan pasar yang tak habis-habisnya akan barang dan gaya baru, menciptakan komoditi yang memungkinkan gaya berjalan lebih cepat, baik dari gaya avant garde ke gaya popular, atau dari gaya popular ke gaya avant garde, atau dari gaya popular ke gaya jet set.

Pemikiran Eiger (2003) mengenai kematian kehidupan sosial dan kemenangan budaya, mengandung pengertian bahwa budaya dan lingkup simbolis tidak dapat diringkas menjadi sebuah alam struktur sosial yang terpisah (kelas). Budaya tinggi dan seni “serius” di sini juga telah kehilangan transendensinya dan wewenang simbolisnya. Meski rumusan-rumusan ini jelas membayangkan runtuhnya pandangan Bourdieu mengenai kekuatan simbolis dan modal budaya dalam suatu kenyataan palsu, yang menyingkirkan satu perangkat perbedaan untuk menggantinya dengan perangkat baru yang menjamur tiada henti, lebih baik jika pada tahap ini rumusan Bourdie dilihat sebagai kecenderungan yang mengancam akan menggoyahkan perbedaan yang timbul dalam kaitan dengan permainan kalah-menang sosial. Walaupun kekuasaan Amerika Serikat ini jelas sekali terlihat di negara-negara pusat di barat, hal ini lebih menonjol di negara-negara pinggiran di Dunia Ketiga. Kalau kita berbicara tentang pengaruh global dan dampak budaya konsumen atas negara-negara pinggiran, tekanan harus diletakan pada media masa, dengan anggapan bahwa di negara-negara di luar negara pusat konsumsi sebagian besar rakyat jelata terbatas pada konsumsi kesan dalam media, sementara masyarakat tidak mampu mengembangkan prasarana produktif untuk memperluas konsumsi barang sehingga dapat mengembangkan seperangkat gaya hidup dan perilaku yang berorientasi di sekitar konsumsi. Ini tidak berarti bahwa banjir kesan yang dibawa media yang berpusat di barat itu tidak berpengaruh terhadap perilaku di Negara-negara dunia ketiga. Dengan meningkatnya dominasi ekonomi Amerika dalam hal produksi serta distribusi budaya melalui media, sering ditunjukkan bahwa negara-negara Dunia Ketiga menghadapi kesulitan berat dalam usaha mencoba menciptakan proteksionisme budaya untuk memelihara budaya-budaya asli. Negara-negara ini tidak hanya terbuka untuk membanjirnya film-film televisi Amerika, komedi bersambung dan sebagainya dengan sedikit biaya bagi produksi berbagai acara siaran lokal dan kegiatan-kegiatan “jalan belakang” perusahaan multinasional amerika serikat dalam pembelian agen-agen periklanan serta media nasional. Sebaiknya juga memperlihatkan bahwa kaum borjuis baru mereka sering bertindak sebagai perantara bagi budaya Amerika dalam memanfaatkan keangotaannya yang elite, yang mobile, dan kosmopolitan untuk menyebarluaskan barang-barang dan nilai-nilai budaya konsumen yang diambil dari pusat. Dominasi budaya yang progresif ini, yang sering diarahkan ke imperialisme budaya atau imperialisme media, telah dianggap sebagai ciri Amerikanisasi.

Amerikanisasi digunakan untuk menunjukan cara bagaimana film-film, televisi, dan produk-produk media lainnya umumnya dikemas dengan paket-paket orang Amerika atau gaya orang Amerika sebagai bagian dari suatu internasiolisasi konsumsi, pola-pola pemanfaatan waktu luang, pendidikan budaya remaja, bahasa dan mode kesadaran yang progresif.

Karena itu salah membaca arti pesan yang asli tampaknya sudah menjadi bagian dari penerimaan program dan benda budaya konsumen di negara-negara dunia ketiga. Ruang gerak untuk kesalahpahaman ini menjadi masalah bila budaya konsumen dianggap sebagai suatu ideologi yang mencakup seperangkat keyakinan. Selain itu, pengaruh besar budaya konsumen ialah menggoyahkan makna tanpa menggantinya dengan makna baru dengan batas-batas khusus pula. Jadi, salah satu cara yang memungkinkan produk-produk hasil budaya konsumen tidak membentuk masyarakat menjadi media kapitalis, yaitu dengan mendorong berkembangnya peranan pemberi tanda dan teks yang tertulis untuk menghilangkan kekaburan makna. ***

Temen_disukusi_zaman_kuliah
Terdapat suatu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Sunda menjelang pelaksanaan bulan suci Ramadhan, yaitu munggahan. Saya mengenal
istilah munggahan ini dari kedua orang tua yang juga selalu merayakan munggahan dengan keluarga mereka sewaktu
masih kecil. Bisa dibilang kebiasaan ini memang turun temurun dilakukan dari setiap generasi ke generasi berikutnya.  Karena penasaran, saya lalu bertanya-tanya pada beberapa teman mengenai definisi munggahan ini. Seorang teman yang juga seorang dosen Ilmu Budaya Sunda mengatakan, munggahan berasal dari kata unggah yang berarti memasuki tempat yang tinggi. Munggah berarti hari pertama puasa pada tanggal satu bulan ramadhan.


Jadi kesimpulannya adalah penyambutan secara suka cita terhdap bulan suci ini.   Biasanyatradisi munggahan disibukkan dengan acara botram alias makan-makan bersama keluarga, teman atau para tetangga. Saya sih mood-an, maksudnya saya memang punya agenda resmi setiap tahun dengan keluarga untuk mengadakan munggahan. Tapi bila sedang mood munggahan dengan teman-teman semasa S1 dulu, ya saya pasti ikutan hehehehe (Nunggu undangan dari mereka dulu, maklum kampung halaman mereka di luar Bandung).

Sayangnya, dikarenakan aktifitas teman-teman yang sudah berumah tangga dan sibuk berprofesi, membuat sulit untuk bisa kumpul-kumpul bersama lagi sekarang.

Tradisi ini pada dasarnya dilakuakan untuk menyambut bulan ramadhan dengan hati suka cita. Ekspresi dari suka cita ini
dilukiskan dengan kumpul bersama sambil makan-makan.
Acara munggahan ini memang  penuh kegembiraan, karena sesuai dengan sunah Nabi Muhammad SAW, yang selalu menyambut Ramadhan dengan ucapan “marhaban” penuh keramahan dan keriangan. Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan yang harus dimuliakan. Karena di bulan ramadhan ini seluruh umat muslim akan menahan lapar,
dahaga serta menahan hawa nafsu, amarah, dan berbagai jenis nafsu lainnya.  Setelah acara munggahan selesai, saya saling bermaaf-maafaan dengan kedua orang tua, adik semata wayang dan keluarga-keluarga. Karena bagi saya, dengan adanya munggahan, niat ikhlas untuk menjalankan puasa akan tiis ceuli herang mata (tenang tenteram) mendapatkan ridha Allah SWT. Amin. Insyaallah..

    Pagi tadi saya menonton konvensi nasional Partai Demokrat yang ditayangkan Metro TV melalui VOA di Stadion Invesco, Denver (USA). Barrack Obama telah menerima pencalonan dirinya sebagai kandidat presiden dari Partai demokrat yang disaksikan oleh 75.000 pendukungnya. Tentunya setelah menyisihkan Hillary Clinton, senator dari New York. Pada ucapan terima kasih yang dia sampaikan di awal pidato, Hillary Clinton serta Mantan Presiden Bill Clinton, mendapatkan porsi penghargaan yang cukup baik. Saya sempat iseng menghitung, sampai berapa kali (mungkin belasan kali) Obama mengucapkan kata ‘thank you’ pada para pendukungnya, karena riuh rendah tepukan tangan yang berlangsung agak lama. Obama memulai pidatonya dengan mengatakan bahwa sumber aspirasi dirinya untuk menjadi presiden USA karena inspirasi serta filosofi yang pernah dia dapat dari nenek, kakek dan ibunya. Itu terbukti dari pernyataan-pernyataan altruisme Obama yang saya kutip, misalnya ‘The Election is Not for Me, but for You’. Ia juga memang orator yang handal, sehingga bisa menyemangati pendukungnya dengan mengatakan, ‘Change Comes because America Wants It’. Beragam isu yang Obama lontarkan, namun saya tidak sempat mencatat semuanya dengan sistematik. Semisal sistem pendidikan yang menyeleruh sampai tingkat perguruan tinggi bagi generasi muda tanpa mengenal diskriminasi, menghilangkan pajak 95% bagi kaum pekerja, peningkatan pelayanan kesehatan, pemindahan sumber energi pada energi ramah lingkungan (bio diesel), pemangkasan impor minyak ke timur tengah, dan masih banyak lagi. John McCain, senator dari Partai Republik sebagai oponen dari Obama, pada awalnya dieluk-elukan oleh Obama sebagai pahlawan yang ikut berperang di Vietnam. Namun setelah itu, Obama mengkritik McCain atas usungan-usungan janji yang akan dia jalankan (sebab terlalu Pro pada Bush) atas kelanjutan penginvasian ke Irak. Walau Obama pun memiliki sikap yang sangat egaliter terhadap pelegelan aborsi serta kebebasan bagi kaum homoseksual, namun ia berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan Bush atas kebijakan yang pernah diambil dulu. Terbukti dalam pidatonya, Obama memberikan pesan pada Mc Cain, ‘We Put Our Country First’ sambil menambahkan, ‘Intelectual and Moral strength are the Keys, as Kennedy said’. Istrinya, Michelle Obama dan kedua anak perempuannya terlihat begitu bersemangat mendukung ayahnya. Sedangkan Joe Biden, calon wakil presiden yang Obama pilih untuk mendampinginya, tampil begitu antusias di podium, setelah Obama selesai memberikan pidato. Bila pada akhirnya Obama terpilih menjadi Presiden USA, maka ia adalah satu-satunya presiden berkulit hitam dalam sejarah amerika serikat.

Ceritanya_pake_kerudungSaya tertarik pada kajian tasawuf menjelang bulan Ramadhan yang beberapa hari lagi akan dilakukan oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia. Tasawuf sebagai khazanah spiritualisme Islam, merupakan latihan spiritul sebagai upaya-upaya untuk benar-benar merasa dekat dengan Tuhan. Tuhan bersifat immateri, maka keberhasilan untuk menjadi semakin mendekat kepada-Nya akan terwujud bila tidak lagi terpenjara oleh kehidupan materi untuk memasuki alam rohani.

Saya menyadari sangat sulit untuk mencapai makhom sufistik semacam tasawuf. Namun melihat kehidupan saat ini yang penuh dengan kehidupan materialistik dan hedonisme, godaan-godaan itu semakin santer saya rasakan. Apalagi diri saya yang masih dangkal dalam pengkajian ilmu agama.

Pemujaan terhadap tuhan-tuhan baru yang berwujud materi, kekuasaan dan sebagainya telah membentuk paradigma baru bahwa tujuan hidup manusia itu hanyalah pemenuhan keduniawiaan belaka. Walau saya tidak memunafikan fakta bahwa saya pun membutuhkan uang untuk tetap survive hidup di dunia, tetapi itu tentunya bukan merupakan tujuan akhir nanti.

Beberapa hari lagi, bulan penuh barokah ini akan datang kembali. Saya begitu bersyukur sebab masih diberi kesempatan untuk menikmati magfirah Allah di Ramadhan nanti. Rasa kangen pada bulan Ramadhan ini, seakan terobati melalui penantian selama 11 bulan. Ramadhan, memang bulan yang penuh
dengan rahmat dan ampunan.

Dengan meluasnya penjajahan kapitalisme, hedonisme, materialisme dan egosentris yang saya rasakan semakin gencar, bulan ramadhan adalah panasea dari oase kekeringan batin saya ini. Sebab tujuan puasa bagi saya yaitu sebagai upaya mencegah hawa nafsu, tentunya bukan hanya nafsu menahan lapar dan dahaga saja. Nafsu menguasai, nafus amarah, nafsu menunjukan kemegahan diri sendiri dan beragam nafs pada diri manusia yang terdapat pada id-nya.

Ya Allah, betapa bahagianya saya karena diberi kesempatan untuk bertemu dengan Bulan Suci ini lagi. Alhamdulilah..

Marhaban Ya Ramadhan..Marhaban Ya Ramadhan.. - Lucy -

Kekerasan dengan atas nama penggemblengan mental mahasiswa pada proses pendidikan di Perguruan Tinggi merupakan hal yang tidak bisa dianggap biasa-biasa saja. Institusi pendidikan yang menerapkan violence act (aksi kekerasan) atas dasar pembinaan terhadap para mahasiswa ataupun calon mahasiswa-mahasiswinya hingga mengakibatkan korban jiwa merupakan aksi yang tidak bisa ditolerir. Secara eksplisit model pendidikan tersebut dapat dikatagorikan pada level penghilangan hak asasi manusia.

Dengan maraknya berbagai tindakan kekerasan yang terjadi dalam proses pendidikan di tingkat Perguruan Tinggi telah mengakibatkan munculnya image negatif terhadap kwalitas dunia pendidikan nasional. Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia pada awalnya diharapkan untuk membentuk mahasiswa yang bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki sikap toleransi serta integrasi yang tinggi, bertanggung jawab, disiplin, mampu mengambil keputusan yang baik, kreatif, dan memiliki sikap untuk berkompetisi secara sehat dengan negara lain. Namun ternyata pada pola prosesnya tidak teradaptasikan.

Pada hakekatnya pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan manusia terutama dalam bidang kepribadian dan abiliti sehingga manusia tersebut berguna dalam kehidupan bermasyarakat. Alwasilah (1997), menegaskan bahwa “dipilihnya kebermaknaan ‘meaning fullness’ sebagai pendekatan yang lekat pada setiap aspek kurikulum pendidikan, yaitu: (1) tujuan yang akan dicapai, (2) pengalaman edukasional untuk mencapai tujuan itu, (3) organisasi pengalaman edukasional itu, dan (4) langkah-langkah evaluasi untuk menentukan kriteria keberhasilan yang dimotivasi oleh kebermaknaan yang berperan sebagai motor penggerak.

Pendidikan merupakan wahana yang paling strategis karena pendidikan diharapkan bisa mempersiapkan generasi muda yang sadar terhadap kekuatan Iptek dan memiliki solidaritas etis sebagai gambaran manusia berdikari tanpa harus selalu bergantung kepada infrastruktur atau lapangan kerja yang tersedia dalam menghasilkan sesuatu sebagai produk yang berguna untuk dirinya maupun masyarakat yang diperoleh dari proses pendidikan yang pernah diterimanya.

Model pendidikan pada tingkat ‘undergraduate students’ (universitas/institut) akan mengalami kesulitan bila pengembangan sumber daya manusianya masih diselipi violence act maupun soft violence yang diimplementasi pada proses pembinaan mental mahasiswa baru maupun mahasiswa yang sedang menjalani studi. hal tersebut dapat dikatakan useless bila hanya membentuk kapabilitas mental seorang mahasiswa, dan pada akhirnya hal tersebut tidak akan bisa membuat mahasiswa mampu berkompetisi dengan mahasiswa-mahasiswa asing dari kampus ‘universitas’ yang telah dikemukakan diatas tadi. Saya kira lebih baik aktivitas mahasiswa yang bertendensi kekerasan tersebut lebih baik dihapus, diganti kontennya dengan kegiatan diarahkan kepada hal-hal yang ‘logic scientific’ (ilmiah dan masuk akal), bila aktivitas kekerasan terus dilakukan (walau sudah membudaya), hal ini akan akan memungkinkan soft violance terjadi secara simultan.

Menurut Kneller (1984), Suatu perilaku muncul bila disebabkan karena banyak faktor, termasuk orang-orang yang ada disekitarnya dengan perilakunya. Jika seorang mahasiswa pada awalnya bersikap baik dan sopan, dia akan secara ekstrim berubah menjadi bengis ‘beringas’ bila lingkungan tempat mahasiswa tersebut memiliki kekuatan mempengaruhinya. Tindakan kekerasan akan menjadi kasus balas dendam yang dilakukan senior kepada juniornya. Pengalaman pernah mengalami kekerasan dari para seniornya akan membentuk mental juniornya menumpahkan ledakan amarah pembalasan dendamnya kepada juniornya di kemudian hari..

Perguruan tinggi harus meningkatkan kualitas pengajaran dan pendidikannya, mahasiswa diberi lahan untuk melakukan diskusi ilmiah, debat antar mahasiswa baik mahasiswa baru maupun mahasiswa semester atas untuk mengembangkan daya nalar sebagai replacement dari kegiatan dan proses pendidikan yang berbau kekerasan sebagai sisa-sisa gaya pendidikan colonial. Brown (1994) mengatakan, “the principal of strategy investment was introduced. Here, we probe its implication for your teaching methodology in the classroom, namely, how came your language classroom technique encourage, build and sustain effective language learning strategies in your students”. Dengan melalui acara diskusi serta debat justru akan mendorong mahasiswa menjadi insan-insan bangsa yang kritis, dengan demikian hak asasi manusia yang masih terampas untuk pengembangan nalar mahasiswa Indonesia mulai dihargai keberadaannya.

Kompetisi adu intelektual di kalangan mahasiswa melalui diskusi dan debat akan merangsang kecerdasan emosional mahasiswa (EQ), selain kecerdasan intelektualnya (IQ). Kepedulian sosial mahasiswa akan meningkat dan mengembangkan rasa solidaritas yang positif antar mereka. Energi positif tersebut akan bertransformasi menjadi tujuh kekuatan gerak, yaitu:

  1. Perilaku jujur
  2. Tanggung jawab
  3. Disiplin
  4. Kerja sama
  5. Visioner
  6. Peduli lingkungan lewat sumbangsih ide/gagasan (Terbit di Majalah Mizan)

Bahasa merupakan bagian dari komunikasi yang terpenting. Tanpa bahasa kita tidak mungkin bisa bertukar informasi. Menurut Barker (1984), bahasa memiliki tiga fungsi: penamaan, interaksi, dan transmisi informasi. Melalui bahasa, beragam macam informasi dapat disampaikan kepada orang lain. Terdapat empat keterampilan berbahasa, yaitu: membaca (reading), menulis (writing), berbicara (speaking) dan menyimak (listening). Keempat keterampilan itu memiliki kepekatan kognitif yang tidak sama, seperti perbandingan antara kemampuan membaca dan kemampuan menulis. Kemampuan membaca dan menulis (literasi) lebih menyita konsentrasi kognitif dan intelekif yang berfungsi sebagai latihan untuk meningkatkan kekritisan serta daya nalar, bila dibandingkan dengan keterampilan berbicara dan menyimak.

Transformasi Ilmu Melalui Tulisan

Sistem budaya praliterasi (lisan) dan pendidikan yang kurang menanamkan kemampuan berpikir kritis/menggunakan daya nalar inilah merupakan satu dari sekian hal penghambat kemajuan pengetahuan dan pendidikan pada umumnya. Bila dihitung setiap tahun, perguruan-perguruan tinggi baik negeri maupun swasta telah mencetak berpuluh-puluh juta sarjana dan pasca sarjana. Sayangnya, mayoritas intelektual tersebut kurang suka menulis. Sebagai bahan komparasi saja, Amerika Serikat menerbitkan 100.000 judul, Australia 7.500, Inggris 61.00, Jepang 44.000, dan Belanda 13.000 judul buku per tahun. Sedangkan Indonesia hanya menerbitkan2.000 judul per tahun (Alwasilah, Media Indonesia, 20-06-1992). Jelaslah bahwa masyarakat ilmuwan kita masih jauh tertinggal dari masyarakat ilmuwan negara maju.

Pembuktikan ini bisa saja dijadikan alasan tidak berkembangnya daya nalar masyarakat, karena banyak ilmuwan memang suka membaca tetapi belum banyak yang suka menulis. Disinilah peran Perguruan Tinggi agar membekali para alumninya dengan keterampilan menulis. Sehingga transformasi ilmu pun berkembang dikalangan masyarakat luas.

Praliterasi Vs Posliterasi

Masyarakat Indonesia menjadi semakin tidak purposif lewat penggunaan teknologi-teknologi canggih tersebut. Misalnya, handphone digunakan untuk media ngobrol bareng artis-artis atau internet yang digunakan beberapa mahasiswa sebatas ber-chatting ria. Akhirnya kita diperbudak oleh Iptek, bukan malah berusaha untuk mengendalikan dan memanfaatkan teknologi tersebut. Masyarakat Indoensai adalah masyarakat yang mayoritas penduduknya berbudaya praliterasi dimana budaya lisan lebih mendominasi. Dengan mental praliterasi yang cenderung reaktif dan spontan, tiba-tiba diinvasi oleh budaya posliterasi seperti tekhnologi internet, handphone, televisi dan sebagainya. Akulturasi praliterasi dan posliterasi dalam budaya ini.

Terdapat sebuah film barat dimana sepasang suami istri tengah bersiap tidur. Mereka membaca dulu beberapa halaman buku, diterangi lampu baca di samping ranjangnya. Terkadang mereka menggunakan kaca mata baca. Setelah cukup mengantuk, mereka menaruh buku di meja kecil di sampingnya dan mematikan lampu baca. (Adlin, Pikiran Rakyat, 10-02-2007). Book (1980) menamakannya budaya literasi (baca-tulis) masyarakat barat. Sehingga ada yang mengatakan bahwa budaya literasi barat dan praliterasi itu telah menciptakan kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang.

Budaya Literasi Masyarakat Indonesia

Kebiasaan baca-tulis sebenarnya persoalan budaya. Dalam aplikasi literasi, seyogyanya harus ditumbuhkan kegemaran membaca pada masyarakat. Bila membaca telah menjadi kebutuhan batin, masyarakat akan selalu bernafsu untuk membaca media apa saja. Lalu dengan sendirinya mereka akan tergerak dan terangsang untuk menuangkan informasi/ilmunya ke dalam tulisan.

Dalam Writing, Research, Theory and Application, Kraschen mengadakan obsevasi mengenai korelasi antara membaca dan menulis. Dari penelitian tersebut, terbukti bahwa penulis yang baik adalah mereka yang gemar membaca dimasa kecilnya, suka membaca koran, dan memiliki banyak buku di rumahnya. Terbukti pula bahwa penulis yang baik adalah mereka yang menulis di luar kegiatan akademik, sering menulis diari/jurnal, mengikuti kursus menulis dan memiliki sikap positif terhadap menulis. Maka dari itu, keterampilan menulis sebenarnya dapat dibina dan dikembangkan.

Ketika menulis, penulis diharuskan menguasai kode etik linguistic. Menulis merupakan permainan logika, karena penulis dipaksa berpikir lebih kritis dibanding saat membaca. Maka, menulis merupakan alat untuk mempertajam serta memperhalus pikiran. Semakin dalam dan kritis suatu pemikiran, akan semakin berkualitaslah hasil tulisan tersebut. Ini semua terlahir atas proses internaslisasi kedalaman ilmu dan kekritisan penulis. Namun kompetensi menulis tentunya hanya tumbuh dari kegemaran membaca. Sedangkan latihan menulis secara simultan, akan menumbuhkan performansi tulisan.

Sebelum menulis, penulis harus yakin dengan poin-poin pikiran yang akan ditulis. Harus ada interaksi antara bahasa dan poi-poin pemikiran. Poin itu tentunya tidak datang begitu saja. Penulis harus mencari informasi sebanyak mungkin dengan membaca. Tanpa hobi membaca, seseorang tidak akan mungkin bisa menjadi penulis. Hal itu dikarenakan membaca melibatkan memori yang menyimpan informasi dan membentuk imej mengenai objek bacaan tersebut. Kembali lagi kepada budaya praliterasi bangsa Indonesia, media yang lebih media yang lebih berkembang pada masyarakat Indonesia adalah sastra dan tradisi lisan, bukanlah sastra tulis. Contoh kecilnya, pada budaya bahasa sunda terdapat sisindiran dan wayang. Sedangkan budaya Bahasa Inggris merupakan budaya baca-tulis.

Ditinjau dari paradigma kultur ini, memang tidaklah mudah untuk menanamkan budaya gemar membaca pada masyarakat praliterasi. Menstimulus masyarakat untuk hobi membaca saja susah, apalagi menumbuhkan hobi menulis. Contoh konkritnya, jarang rumah-rumah di Indonesaia yang mempertimbangkan untuk membuat perpusatakan pribadi atau rak-rak buku di sudut-sudut rumahnya. Mereka lebih cenderung memikirkan untuk menata ruang televisi yang besar dan nyaman bagi keluarga. Dampaknya, minat baca pun menjadi minim sekali.

Penutup

Merupakan hal yang cukup sulit bila kita memaksakan/mencekokan budaya literasi kepada masyarakat, karena bagaimanapun praliterasi telah menjadi akar budaya masyarakat Indonesia.

Namun, praliterasi itupun mempunyai keunggulan tersendiri yaitu sarana untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud seseorang secara verbal. Begitupun literasi yang dapat meningkatkan tingkat logika dan paradigma berpikir masyarakat di balik wacana-wacana teks ilmiah.

Mengenali potensi suatu masyarakat, lalu berusaha mengembangkan potensi tersebut bersama-sama sehingga budaya literasi dan praliterasi menjadi seimbang merupakan jalan keluar dari dilematis budaya ini. Sedangkan budaya posliterasi harus disikapi dengan daya nalar yang tinggi untuk memfilter kebutuhan informasi yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa indonesia. (Diterbitkan di Majalah Mizan).

When the night goes down

I do look you smile in a shadow

That I know….

It’s a joy through my sadness

As if your soul and heart are singing at me

I’ll be at your side to weep the tears”….

And you hug me se gently till I asleep

Then I whisper, “Thank you very much for your love

« Newer Posts - Older Posts »